Tulisan ini adalah salah satu pengalaman saya ketika melaksanakan Iedul Fitri di wilayah adat Karampuang. Meskipun hanya berupa kisah pengalaman pribadi, namun saya kira ada hal yang menarik untuk kita pelajari. Terserah dari sudut mana kita melihatnya……
Ok Bro..!!!
Lebaran Iedul Fitri pada tahun 2007 atau tahun lalu terasa tidak semarak. Perbedaan waktu pelaksanaan shalat Ied di Indonesia, dan juga di berbagai negara muslim, membuat masyarakat menjadi bingung dan seakan tidak bergairah menyambut hari raya nan fitri ini. Bagi kalangan Muhammadiyah, hari raya jatuh pada hari jum’at tanggal 12 Oktober 2007. Sedangkan pemerintah, melalui sidang isbatnya, menetapan hari raya iedul fitri jatuh pada hari sabtu tanggal 13 Oktober 2007. Masyarakat awam, yang tidak semuanya memiliki pengetahuan tentang penentuan awal bulan hijriyah, mengikuti keyakinannya masing-masing. Meskipun sebagian besar mereka tidak sepenuhnya meyakini pendiriannya. Ada yang hanya ikut-ikutan, ada pula yang memang sesuai dengan pengetahuan dan keyakinannya.
Pernahkah anda menerima atau mengirim SMS lucu kepada teman-teman dan saudara-saudara anda? Saya rasa pasti pernah, meskipun hanya sekali atau bahkan berkali-kali. Pada bulan puasa tahun ini (1429 H/2008M) saya menerima banyak sekali SMS yang unik dan lucu, sehingga kadang tertawa sendiri ketika membacanya. Pada waktu itu biaya SMS gratis mulai pukul 00.00 s/d 05.55. kebanyakan SMS masuk pada saat sahur sampai menjelang pagi. Mungkin karena tidak ada beban biaya alias gratis inilah yang merangsang teman-teman untuk saling mengirim SMS hingga melebihi 300 karakter. Sebenarnya SMS yang saya terima kadang mengarah kepada “canda yang berlebihan” alias “Jorok”, namun bagi saya, kata-kata dalam SMS yang mereka kirim hanyalah sebatas mengekspresikan kemampuan humor yang mereka miliki dengan menyusun kata demi kata sampai akhirnya menjadi sebuah kalimat lucu.
Selama ini, masyarakat adat Karampuang hanya mengetahui asal-usul keberadaan mereka melalui mitos Tomanurung yang tertulis di dalam lontara Karampuang dan diceritakan dari generasi ke generasi. Melalui mitos inilah kemudian muncul dua versi mengenai asal mula penyebutan nama Karampuang itu sendiri. Pertama, kata Karampuang berasal dari mitos Tomanurung pertama dan kedua yang turun di puncak gunung Karampuang. Kedua, kata Karampuang diyakini secara historis berasal dari penggabungan dua suku kata dari gelar kebangsawanan Bugis-makassar, yakni “Karaeng” dan “Puang”.